Skip to main content

✨ Logo 80 Tahun Indonesia: Udah Keren Belum Sih? Atau Butuh Tambahan Sambal Biar Nendang?

80 tahun Indonesia merdeka. Sebuah momen yang nggak main-main. Tapi ketika logonya muncul… hmm… kita semua refleks nanya:

“Ini beneran logo ulang tahun negara… atau logo kampanye diskon cuci gudang?”

1. Sekilas Lihat, Ini Angka Berapa?

Coba jujur—kamu pertama kali lihat ini baca "80" atau malah mikir infinity, atau angka 8 ketemu powerbank? 😅
Desainnya memang clean, tapi justru saking minimalisnya, jadi ambigu.

“Mungkin ini bentuk 80 kalau kita melihat masa depan dari cermin bengkok?”

2. Merah Putihnya Dapet, Tapi Rasanya Kurang Sambel

Warnanya udah nasionalis banget. Merah-putih ✅
Tapi entah kenapa feel-nya nggak nendang. Nggak dapet vibes “Woah ini Indonesia 80 tahun men!”
Lebih ke “Oh ini logo… yaudah”.

3. Kurang Nuansa “Gue Banget”

Kita ngerti sih, ini mungkin desain yang pengen aman. Tapi Indonesia tuh kaya. Dari budaya, bentuk, warna, sampai cara netijen berargumen di Twitter. Kenapa nggak dimanfaatin buat ngasih sentuhan “gue banget”?

Misal ada siluet Indonesia? Motif batik digital? Atau vibe anak muda kekinian?

4. Emang Selera Desain Itu Subjektif... Tapi Masa Kita Nggak Boleh Tanya?

Mungkin memang udah melalui banyak pertimbangan. Tapi sebagai rakyat Gen Z yang tiap hari ngulik desain di Pinterest, Behance, dan TikTok—kita juga boleh dong nanya:
👉 “Apakah ini sudah representasi visual terbaik dari 80 tahun Indonesia?”


Penutup:
Logo ini bukan jelek, tapi lebih ke: "apakah ini yang paling cocok?"
Dan mungkin, jawaban itu gak datang dari desainer, tapi dari kita semua.

Jadi, menurut kamu… ini logo oke gak sih? Atau perlu di-revamp dikit biar makin “Indonesia Maju”?

Comments

Popular posts from this blog

Series: Boss vs Leader || Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek

Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek Jujur ya, dari 4 tahun kerja, gue makin sadar kalau nggak semua mentor itu bentuknya kayak “motivator” yang teriak-teriak di depan atau selalu sibuk kasih wejangan. Ada juga tipe mentor yang ngajarin lo lewat cara mereka nge- play the game . Dan episode pertama ini, gue mau cerita tentang salah satu atasan paling senior yang pernah gue temuin. Beliau ini udah kerja puluhan tahun, literally mungkin 30 tahunan lebih. Dari vibe sehari-harinya, jelas banget dia bukan tipe yang doyan cari spotlight. Nggak ada tuh gaya “nyari muka ke bos lebih gede”. Justru kebalikannya: low-key, tenang, tapi super strategis. Cara ngomongnya singkat, to the point, dan jelas banget kalau dia udah kebal sama politik kantor. Dan anehnya ya, justru karena itulah semua orang respect. Dia disegani bukan cuma karena senioritas, tapi karena kontribusinya gede banget. Kalau ada dia di ruang meeting, semua orang otomatis ngedengerin. Aura “gue tau apa ya...

Series: Career Plot Twist

Perjalanan Karierku: Dari Arsitektur ke Dunia Kerja Kalau ditanya, “Kenapa sih dulu ambil arsitektur?” Jawabannya simpel: gue suka desain, suka bikin sesuatu yang nyata, bukan cuma teori di atas kertas. Gue kuliah arsitektur dari 2017 sampai 2021. Dan sekarang, di 2025, gue udah masuk tahun ke-4 berkarier setelah lulus. Waktu kuliah, gue bukan tipikal anak himpunan. Bukan karena anti-sosial, tapi menurut gue atmosfernya terlalu senioritas dan nggak nyambung sama tujuan pribadi gue. Gue lebih milih ikut workshop jurusan, atau ambil project-project kecil dari luar. Kadang dari rumah tinggal, kadang dari instansi—kebanyakan sih dari dosen yang percaya sama kemampuan gue. Dan hasilnya? Habis buat biaya maket skripsi, dong. Circle of life anak arsitektur banget kan: cari project, dapat duit, duitnya balik lagi ke maket. Repeat until lulus 🤣. Nah, setelah lulus, dimulailah perjalanan karier gue. Dari interior, loncat ke telekomunikasi, balik lagi ke dunia 3D, sampai sekarang siap buk...

Semua Orang Sibuk Menjadi Pusat

Kadang lucu ya, gimana sebuah kumpulan orang yang sebenarnya baik-baik aja, bisa bikin kita ngerasa kayak… “kok gue capek sendiri ya?” Padahal gak ada yang salah. Semuanya ramah, care, sering bantu, dan kalau dilihat dari luar, hubungan ini kelihatan healthy banget. Tapi makin sering lo duduk di antara mereka, makin lo sadar: semua perhatian kayak punya satu arah. Selalu ada satu orang yang entah kenapa jadi pusat orbit. Kalau dia ngomong, semua nyimak. Kalau dia datang, semua bersemangat. Kalau dia absen, semua bahas. Meanwhile kalau lo cerita sesuatu? Reaksinya: “oh ya?” — lalu ganti topik. Awalnya lo mikir, yaudah deh. Bukan masalah besar juga. Lo bukan tipe orang yang haus perhatian. Lo cukup senang jadi bagian dari lingkaran yang solid. Tapi makin hari, makin terasa bedanya. Kayak lo hadir, tapi gak benar-benar ada. Suatu hari, lo ngalamin momen yang cukup nyantol di kepala. Waktu itu rencananya bareng-bareng ke luar kota — semacam trip kecil buat refreshing baren...