Skip to main content

Semua Orang Sibuk Menjadi Pusat

Kadang lucu ya, gimana sebuah kumpulan orang yang sebenarnya baik-baik aja, bisa bikin kita ngerasa kayak… “kok gue capek sendiri ya?”


Padahal gak ada yang salah.

Semuanya ramah, care, sering bantu, dan kalau dilihat dari luar, hubungan ini kelihatan healthy banget. Tapi makin sering lo duduk di antara mereka, makin lo sadar: semua perhatian kayak punya satu arah.


Selalu ada satu orang yang entah kenapa jadi pusat orbit.

Kalau dia ngomong, semua nyimak.

Kalau dia datang, semua bersemangat.

Kalau dia absen, semua bahas.

Meanwhile kalau lo cerita sesuatu? Reaksinya: “oh ya?” — lalu ganti topik.


Awalnya lo mikir, yaudah deh. Bukan masalah besar juga.

Lo bukan tipe orang yang haus perhatian. Lo cukup senang jadi bagian dari lingkaran yang solid. Tapi makin hari, makin terasa bedanya. Kayak lo hadir, tapi gak benar-benar ada.




Suatu hari, lo ngalamin momen yang cukup nyantol di kepala.

Waktu itu rencananya bareng-bareng ke luar kota — semacam trip kecil buat refreshing bareng. Lo udah bantuin dari awal: nyari penginapan, nge-list tempat makan, sampai ngatur itinerary biar gak tabrakan.


Lalu tibalah hari keberangkatan.

Dan entah kenapa, semua orang hebohnya malah soal satu orang yang baru join di menit terakhir.

Yang literally cuma bilang, “guys, nanti di sana kita cari sunset ya biar aesthetic,” dan semua langsung: “Wah iya seru tuh, ide kamu selalu keren banget!”

Lo cuma senyum. Dalam hati: “Oke… so I guess itinerary 4 halaman gue gak penting, ya?”


Dan di situlah muncul rasa yang gak bisa dijelasin: bukan marah, bukan iri — tapi capek.

Capek liat pattern yang sama berulang.

Capek harus pura-pura gak notice siapa yang selalu disorot, siapa yang gak.

Capek ngelihat effort lo jadi hal kecil, cuma karena lo gak suka ribut.




Sampai akhirnya lo sadar: mungkin lo bukan invisibel, cuma gak di frekuensi yang sama.

Ada orang-orang yang punya cara mencuri atensi tanpa usaha — dan ada juga orang kayak lo, yang lebih nyaman mencuri ketenangan.


Dan itu bukan hal yang buruk.

Cuma… butuh waktu buat terbiasa.


Karena dunia ini emang gak adil dalam cara membagi spotlight.

Kadang yang paling keras suaranya, yang paling banyak dapat tepuk tangan.

Tapi yang paling tenang, yang paling lama diingat.


Lo akhirnya berhenti ngerasa perlu ikut nyaring.

Lo tetap hadir, tetap bantu, tetap baik — tapi lo udah gak lagi nunggu “terima kasih” atau “pujian kecil.”

Karena ternyata, kedewasaan bukan tentang siapa yang paling diperhatikan. Tapi siapa yang bisa tetap tulus walau gak selalu diperhatiin.


Mungkin gue bukan pusat perhatian, tapi gue nyaman jadi orang yang sadar arah.

Comments

Popular posts from this blog

Series: Boss vs Leader || Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek

Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek Jujur ya, dari 4 tahun kerja, gue makin sadar kalau nggak semua mentor itu bentuknya kayak “motivator” yang teriak-teriak di depan atau selalu sibuk kasih wejangan. Ada juga tipe mentor yang ngajarin lo lewat cara mereka nge- play the game . Dan episode pertama ini, gue mau cerita tentang salah satu atasan paling senior yang pernah gue temuin. Beliau ini udah kerja puluhan tahun, literally mungkin 30 tahunan lebih. Dari vibe sehari-harinya, jelas banget dia bukan tipe yang doyan cari spotlight. Nggak ada tuh gaya “nyari muka ke bos lebih gede”. Justru kebalikannya: low-key, tenang, tapi super strategis. Cara ngomongnya singkat, to the point, dan jelas banget kalau dia udah kebal sama politik kantor. Dan anehnya ya, justru karena itulah semua orang respect. Dia disegani bukan cuma karena senioritas, tapi karena kontribusinya gede banget. Kalau ada dia di ruang meeting, semua orang otomatis ngedengerin. Aura “gue tau apa ya...

Series: Career Plot Twist

Perjalanan Karierku: Dari Arsitektur ke Dunia Kerja Kalau ditanya, “Kenapa sih dulu ambil arsitektur?” Jawabannya simpel: gue suka desain, suka bikin sesuatu yang nyata, bukan cuma teori di atas kertas. Gue kuliah arsitektur dari 2017 sampai 2021. Dan sekarang, di 2025, gue udah masuk tahun ke-4 berkarier setelah lulus. Waktu kuliah, gue bukan tipikal anak himpunan. Bukan karena anti-sosial, tapi menurut gue atmosfernya terlalu senioritas dan nggak nyambung sama tujuan pribadi gue. Gue lebih milih ikut workshop jurusan, atau ambil project-project kecil dari luar. Kadang dari rumah tinggal, kadang dari instansi—kebanyakan sih dari dosen yang percaya sama kemampuan gue. Dan hasilnya? Habis buat biaya maket skripsi, dong. Circle of life anak arsitektur banget kan: cari project, dapat duit, duitnya balik lagi ke maket. Repeat until lulus 🤣. Nah, setelah lulus, dimulailah perjalanan karier gue. Dari interior, loncat ke telekomunikasi, balik lagi ke dunia 3D, sampai sekarang siap buk...