Skip to main content

Series: Boss vs Leader || Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek

Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek

Jujur ya, dari 4 tahun kerja, gue makin sadar kalau nggak semua mentor itu bentuknya kayak “motivator” yang teriak-teriak di depan atau selalu sibuk kasih wejangan. Ada juga tipe mentor yang ngajarin lo lewat cara mereka nge-play the game. Dan episode pertama ini, gue mau cerita tentang salah satu atasan paling senior yang pernah gue temuin.

Beliau ini udah kerja puluhan tahun, literally mungkin 30 tahunan lebih. Dari vibe sehari-harinya, jelas banget dia bukan tipe yang doyan cari spotlight. Nggak ada tuh gaya “nyari muka ke bos lebih gede”. Justru kebalikannya: low-key, tenang, tapi super strategis. Cara ngomongnya singkat, to the point, dan jelas banget kalau dia udah kebal sama politik kantor.

Dan anehnya ya, justru karena itulah semua orang respect. Dia disegani bukan cuma karena senioritas, tapi karena kontribusinya gede banget. Kalau ada dia di ruang meeting, semua orang otomatis ngedengerin. Aura “gue tau apa yang gue lakukan” tuh kerasa banget.

Sayangnya, gue cuma sempet kerja bareng dia sekitar lima bulan sebelum beliau dipindahin ke branch lain. Tapi lucunya, justru setelah beliau pindah, gue baru ngeh kalau banyak hal yang sebenernya bisa gue pelajarin dari dia. Buat gue yang waktu itu masih anak teknis banget dan clueless soal marketing, gaya dia yang kalem tapi strategis itu jadi semacam “cheat code” buat survive di dunia korporat.

Lesson learned paling gede? Kadang lo nggak perlu jadi orang paling ribut buat keliatan pinter. Justru tau kapan harus ngomong, kapan diem, dan gimana bikin keputusan yang impact-nya panjang itu jauh lebih powerful.


🌍 English Version Below 👇

Episode 1: The Strategic Senior Who Quietly Taught Me Tactics

In my three years of working, I’ve realized one thing: not all mentors teach by talking, leading loudly, or being in the spotlight. Some teach by the way they move in silence. This first episode is dedicated to one of my earliest managers in the corporate world.

He was a senior man, probably with over 30 years of experience in the company. Day to day, he wasn’t the type who craved attention or recognition. No showboating, no “brown-nosing.” Instead, he was deeply strategic. His communication style was sharp and to the point—clearly shaped by decades of navigating corporate politics.

That understated yet strategic presence earned him respect across the office. Not only because of his seniority, but because of the real contributions he made. People looked up to him not just for his title, but for his impact.

Unfortunately, I only had about five months to work under his leadership before he was relocated to another branch. But ironically, it was after his transfer that I realized: what seemed like just his “style” was actually deliberate strategy. As someone who came from a purely technical background with zero understanding of marketing at that time, I learned that leadership isn’t just about skills—it’s about reading the room, positioning yourself wisely, and knowing when to act.

From him, I learned an important truth: sometimes the best strategy isn’t to stand in the spotlight, but to know when to speak, when to stay quiet, and how to ensure your decisions create lasting impact.

Comments

Popular posts from this blog

Series: Career Plot Twist

Perjalanan Karierku: Dari Arsitektur ke Dunia Kerja Kalau ditanya, “Kenapa sih dulu ambil arsitektur?” Jawabannya simpel: gue suka desain, suka bikin sesuatu yang nyata, bukan cuma teori di atas kertas. Gue kuliah arsitektur dari 2017 sampai 2021. Dan sekarang, di 2025, gue udah masuk tahun ke-4 berkarier setelah lulus. Waktu kuliah, gue bukan tipikal anak himpunan. Bukan karena anti-sosial, tapi menurut gue atmosfernya terlalu senioritas dan nggak nyambung sama tujuan pribadi gue. Gue lebih milih ikut workshop jurusan, atau ambil project-project kecil dari luar. Kadang dari rumah tinggal, kadang dari instansi—kebanyakan sih dari dosen yang percaya sama kemampuan gue. Dan hasilnya? Habis buat biaya maket skripsi, dong. Circle of life anak arsitektur banget kan: cari project, dapat duit, duitnya balik lagi ke maket. Repeat until lulus 🤣. Nah, setelah lulus, dimulailah perjalanan karier gue. Dari interior, loncat ke telekomunikasi, balik lagi ke dunia 3D, sampai sekarang siap buk...

Semua Orang Sibuk Menjadi Pusat

Kadang lucu ya, gimana sebuah kumpulan orang yang sebenarnya baik-baik aja, bisa bikin kita ngerasa kayak… “kok gue capek sendiri ya?” Padahal gak ada yang salah. Semuanya ramah, care, sering bantu, dan kalau dilihat dari luar, hubungan ini kelihatan healthy banget. Tapi makin sering lo duduk di antara mereka, makin lo sadar: semua perhatian kayak punya satu arah. Selalu ada satu orang yang entah kenapa jadi pusat orbit. Kalau dia ngomong, semua nyimak. Kalau dia datang, semua bersemangat. Kalau dia absen, semua bahas. Meanwhile kalau lo cerita sesuatu? Reaksinya: “oh ya?” — lalu ganti topik. Awalnya lo mikir, yaudah deh. Bukan masalah besar juga. Lo bukan tipe orang yang haus perhatian. Lo cukup senang jadi bagian dari lingkaran yang solid. Tapi makin hari, makin terasa bedanya. Kayak lo hadir, tapi gak benar-benar ada. Suatu hari, lo ngalamin momen yang cukup nyantol di kepala. Waktu itu rencananya bareng-bareng ke luar kota — semacam trip kecil buat refreshing baren...