Skip to main content

Work Hard? Nah. In Indonesia It’s Who You Know, Not What You Know

NGL… Indonesia Feels Stuck Because of Corruption & Nepotism

Sometimes I ask myself: why does it feel like no matter how hard people try, Indonesia keeps running on the same toxic habits? Two things keep showing up in my daily frustrations: corruption and nepotism.

It’s like—everyone knows it’s bad, but we just laugh it off. Almost like it’s part of our “local wisdom.” And honestly? That mindset drives me nuts.

1. Corruption: “Just slip them some money”

Want something done faster? Pay a little extra. Want to avoid a fine? Just hand over some “coffee money.” It’s so normalized that people joke about it like it’s a life hack.

But here’s the thing—fact is, Indonesia still sits at 110th out of 180 countries on the Corruption Perception Index (2023). That basically means corruption is still everywhere, from the top level to everyday interactions.
Meanwhile, Singapore ranked 5th. Over there, if a public official dares to take a bribe, the consequences are real and immediate. The government pays good salaries, but more importantly, they enforce the law consistently.

So while in Indonesia you “pay extra” to get things moving, in Singapore, the system itself is designed to move without needing bribes.


2. Nepotism: “Do you know someone inside?”

Let’s be honest—sometimes in Indonesia, getting ahead isn’t about talent or hard work, it’s about who you know. You can be the best candidate, but if the boss’s cousin also applies… well, you already know the ending.

And fact is, surveys show that 65% of Indonesian professionals believe nepotism plays a big role in hiring and promotions.
On the other hand, Singapore pushes meritocracy. Sure, no country is 100% perfect, but generally, your skills matter more than your family name. That’s why so many ambitious young people want to build careers there.

So while in Indonesia you might polish your CV endlessly, in Singapore, polishing your skills actually pays off.


3. Why This Hits Hard

Here’s what hurts: I know so many talented Indonesians who feel they have no choice but to leave. They’re tired of playing this unfair game. And honestly? I don’t blame them.

Because fact is, Indonesia loses around 600,000 skilled workers every year due to brain drain.
Meanwhile, Singapore—despite being small and having almost no natural resources—consistently ranks among the best countries to work in, mainly because the system feels fair and transparent.

It’s wild when you think about it: Indonesia has everything—land, resources, people. Singapore has none of that, but fairness alone gives them a head start.


So yeah, maybe this sounds like a rant. But for me, it’s not about hating on Indonesia—it’s about wanting better.

If Singapore can prove that fairness and strict systems work, why can’t we at least try? 

I’m just waiting for the day when I don’t have to hear: “Just pay extra lah, that’s normal here.” Because normal doesn’t always mean right.


Comments

Popular posts from this blog

MENGAPA ADA ORANG YANG KIDAL ?

"Kidal itu salah?"  Eits, siapa bilang? Kalau kamu kenal orang kidal yang usianya lebih tua, kemungkinan besar mereka dulu dipaksa buat nulis atau makan pakai tangan kanan . Iya, beneran. Sampai sekarang pun, di banyak tempat masih ada budaya yang nganggep tangan kanan itu “yang benar”. Lucunya lagi, kata “right” dalam Bahasa Inggris tuh artinya bukan cuma kanan , tapi juga benar . Dan bukan cuma di English aja, di banyak bahasa lain juga gitu. Jadi... kalau kidal itu “salah”, kenapa bisa ada orang kidal? 🎯 Faktanya, sekitar 1 dari 10 orang di dunia itu kidal. Dan ini bukan tren baru ya — bukti dari ribuan tahun lalu nunjukin kalau udah sejak 500.000 tahun lalu, sekitar 10% manusia punya tanda-tanda “kekidalan” . Kayak perbedaan panjang tulang tangan, dan cara pakai alat batu zaman purba. 🤰 Kidal itu bukan pilihan, tapi bawaan Bahkan bisa ketebak dari posisi janin dalam kandungan sebelum bayi lahir! Jadi... apakah ini genetik? Jawabannya: ya dan nggak . Contoh nih, anak...

TAU GA SIH? WARNA TERLANGKA DI DUNIA PART I

"Warna tuh cuma 7?" Fix kamu belum kenalan sama dunia nyata 😮‍💨 Kenyataannya, ada lebih dari 10 JUTA warna di dunia ini — dan banyak di antaranya langka banget sampai orang-orang bela-belain cari ke ujung dunia. Yuk kenalan sama warna-warna paling rarest of the rare yang pernah ada: 1. Ultramarine Blue (Biru Lazuardi) (sumber: wikipedia) (sumber: wikipedia) Warnanya cakep banget, biru tua dengan sedikit aura ungu. Asalnya dari batu lazuardi yang dulu harganya lebih mahal dari emas . Dan FYI: Cuma 1% hewan punya warna biru asli Kurang dari 10% bunga Nggak ada makanan yang warnanya biru alami Makanya warna ini beneran ✨limited edition✨ dari alam. 2. Vantablack (sumber: idn Times) (sumber: wikipedia) Warna paling gelap sealam semesta. Dia nyerep 99,965% cahaya — alias, kalau kamu ngelukis benda pakai warna ini, bentuknya bisa kayak “ngilang” gitu 😱Saking gelapnya, sampai dapet Guinness World Record. Vibe-nya: aesthetic tapi misterius . 3.  Mummy Brown (sumber: idn Ti...

Series: Boss vs Leader || Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek

Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek Jujur ya, dari 4 tahun kerja, gue makin sadar kalau nggak semua mentor itu bentuknya kayak “motivator” yang teriak-teriak di depan atau selalu sibuk kasih wejangan. Ada juga tipe mentor yang ngajarin lo lewat cara mereka nge- play the game . Dan episode pertama ini, gue mau cerita tentang salah satu atasan paling senior yang pernah gue temuin. Beliau ini udah kerja puluhan tahun, literally mungkin 30 tahunan lebih. Dari vibe sehari-harinya, jelas banget dia bukan tipe yang doyan cari spotlight. Nggak ada tuh gaya “nyari muka ke bos lebih gede”. Justru kebalikannya: low-key, tenang, tapi super strategis. Cara ngomongnya singkat, to the point, dan jelas banget kalau dia udah kebal sama politik kantor. Dan anehnya ya, justru karena itulah semua orang respect. Dia disegani bukan cuma karena senioritas, tapi karena kontribusinya gede banget. Kalau ada dia di ruang meeting, semua orang otomatis ngedengerin. Aura “gue tau apa ya...