Skip to main content

Series: Boss vs Leader

 
Belajar strategi hidup dari bos yang nggak toxic ✨

Episode 1-1: Data, Distributor, dan Diam-diam Strategis

Jujurly, awal gue kerja di divisi itu agak kaget. Bayangin aja, di divisi sales operation yang biasanya rame, di branch gue isinya cuma gue sama si bapak mentor ini. Sisanya? Anak-anak intern. Jadi, secara struktur ya kita kayak tim kecil tapi punya tanggung jawab lumayan vital.

Minggu-minggu pertama kerja, gue masih penyesuaian. Beban kerja nggak berat-berat amat, karena jumlah user di daerah gue juga nggak segila di pusat. Strategi marketingnya jadi bisa lebih fokus, dan sales pun bisa lebih gampang didrive.

Nah, rutinitasnya si bapak ini hampir tiap hari ngajak gue ikut ke distributor—perusahaan pihak ketiga yang jadi tulang punggung penjualan produk. Di sana, agenda utamanya ngobrol sama manajer distributor, bahas strategi penjualan, target, dan segala macem yang high-level. Sementara gue? Tugasnya simpel: duduk manis, siapin data, dan kalau ditanya harus langsung buka dashboard.

Awalnya gue kira role gue kayak “sekedar notulen yang bisa buka Excel cepet.” Tapi makin lama gue sadar: dari balik meja itu, ada ilmu besar yang lagi ditransfer. Gue belajar kalau data konsumer itu bukan cuma angka random. Dari data transaksi dan history pemakaian, lo bisa tau habit user, produk mana yang mereka lebih suka, kapan mereka paling banyak belanja, bahkan strategi apa yang paling efektif.

Itu jadi turning point gue. Setelah si bapak dipindah ke branch lain (huft, sad banget), gue coba terapin ilmu yang tanpa sadar beliau kasih. Gue mulai bisa nentuin produk mana yang layak diprioritasin untuk dipush ke tim sales. Gue belajar main logika bisnis kayak “beli murah, jual mahal” buat naikin revenue. Gue ngerti cara nge-push tim sales biar bisa jual lebih banyak tanpa harus overkill.

Dari situlah mindset gue tentang marketing berubah total. Gue yang tadinya pure teknis, tiba-tiba punya sense strategi. Dan itu semua berawal dari mentor yang jarang ngomong banyak, tapi ngasih contoh langsung lewat cara dia kerja.

Kalau ada kesempatan buat ketemu lagi sama si bapak, gue pengen banget bilang: “Thank you, Pak.” Karena ilmu yang beliau kasih, bahkan tanpa sadar, masih kepake sampe sekarang—walaupun gue udah nggak di bidang itu lagi.

Lesson learned: kadang ilmu terbaik bukan datang dari orang yang banyak ngomong, tapi dari orang yang bikin lo mikir, “Ohh ternyata gini cara mainnya.”


🌍 English Version Below 👇

Episode 1: Data, Distributors, and Silent Strategy

When I first joined the division, I was surprised. In a branch where sales operations were supposed to be big, it was basically just me and this senior mentor—plus a few interns. A small team, but with responsibilities that mattered.

In the first few weeks, I was still adjusting. The workload wasn’t too heavy because our user base wasn’t massive compared to headquarters. That meant the marketing strategies could be more focused, and driving sales was relatively straightforward.

Almost every day, my mentor would bring me along to meet with distributors—the third-party companies that carried the bulk of product sales. The meetings were high-level: discussions with distributor managers about sales strategies, targets, and growth. My role? Sit quietly, prepare the data, and be ready to pull up answers if asked.

At first, I thought I was just there as a human Excel shortcut. But over time, I realized the lesson: consumer data isn’t just numbers. From transaction history, you can understand user habits, product preferences, timing, and even craft sharper strategies.

That became my turning point. After he was relocated to another branch, I started applying what I had absorbed. I learned how to prioritize which products to push, apply simple but effective business logic like “buy low, sell high” to boost revenue, and drive the sales team to perform without overloading them.

My entire perspective on marketing shifted. From someone who was purely technical, I began to develop a sense of strategy. And all of this came from a mentor who didn’t lecture me, but taught through action.

If I ever meet him again, I’d simply say: “Thank you.” Because what he gave me—even unintentionally—is still useful, even in fields beyond sales.

Lesson learned: sometimes the best lessons don’t come from loud voices, but from someone who makes you think, “Oh, so this is how the game is played.”

Comments

Popular posts from this blog

Series: Boss vs Leader || Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek

Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek Jujur ya, dari 4 tahun kerja, gue makin sadar kalau nggak semua mentor itu bentuknya kayak “motivator” yang teriak-teriak di depan atau selalu sibuk kasih wejangan. Ada juga tipe mentor yang ngajarin lo lewat cara mereka nge- play the game . Dan episode pertama ini, gue mau cerita tentang salah satu atasan paling senior yang pernah gue temuin. Beliau ini udah kerja puluhan tahun, literally mungkin 30 tahunan lebih. Dari vibe sehari-harinya, jelas banget dia bukan tipe yang doyan cari spotlight. Nggak ada tuh gaya “nyari muka ke bos lebih gede”. Justru kebalikannya: low-key, tenang, tapi super strategis. Cara ngomongnya singkat, to the point, dan jelas banget kalau dia udah kebal sama politik kantor. Dan anehnya ya, justru karena itulah semua orang respect. Dia disegani bukan cuma karena senioritas, tapi karena kontribusinya gede banget. Kalau ada dia di ruang meeting, semua orang otomatis ngedengerin. Aura “gue tau apa ya...

Series: Career Plot Twist

Perjalanan Karierku: Dari Arsitektur ke Dunia Kerja Kalau ditanya, “Kenapa sih dulu ambil arsitektur?” Jawabannya simpel: gue suka desain, suka bikin sesuatu yang nyata, bukan cuma teori di atas kertas. Gue kuliah arsitektur dari 2017 sampai 2021. Dan sekarang, di 2025, gue udah masuk tahun ke-4 berkarier setelah lulus. Waktu kuliah, gue bukan tipikal anak himpunan. Bukan karena anti-sosial, tapi menurut gue atmosfernya terlalu senioritas dan nggak nyambung sama tujuan pribadi gue. Gue lebih milih ikut workshop jurusan, atau ambil project-project kecil dari luar. Kadang dari rumah tinggal, kadang dari instansi—kebanyakan sih dari dosen yang percaya sama kemampuan gue. Dan hasilnya? Habis buat biaya maket skripsi, dong. Circle of life anak arsitektur banget kan: cari project, dapat duit, duitnya balik lagi ke maket. Repeat until lulus 🤣. Nah, setelah lulus, dimulailah perjalanan karier gue. Dari interior, loncat ke telekomunikasi, balik lagi ke dunia 3D, sampai sekarang siap buk...

Semua Orang Sibuk Menjadi Pusat

Kadang lucu ya, gimana sebuah kumpulan orang yang sebenarnya baik-baik aja, bisa bikin kita ngerasa kayak… “kok gue capek sendiri ya?” Padahal gak ada yang salah. Semuanya ramah, care, sering bantu, dan kalau dilihat dari luar, hubungan ini kelihatan healthy banget. Tapi makin sering lo duduk di antara mereka, makin lo sadar: semua perhatian kayak punya satu arah. Selalu ada satu orang yang entah kenapa jadi pusat orbit. Kalau dia ngomong, semua nyimak. Kalau dia datang, semua bersemangat. Kalau dia absen, semua bahas. Meanwhile kalau lo cerita sesuatu? Reaksinya: “oh ya?” — lalu ganti topik. Awalnya lo mikir, yaudah deh. Bukan masalah besar juga. Lo bukan tipe orang yang haus perhatian. Lo cukup senang jadi bagian dari lingkaran yang solid. Tapi makin hari, makin terasa bedanya. Kayak lo hadir, tapi gak benar-benar ada. Suatu hari, lo ngalamin momen yang cukup nyantol di kepala. Waktu itu rencananya bareng-bareng ke luar kota — semacam trip kecil buat refreshing baren...