Skip to main content

PART 1: Rencana yang Nggak Sesuai Timeline

Disclaimer: Cerita ini masih berjalan. Masih banyak plot twist, jadi... stay tuned.

Awalnya aku pikir, aku bakal nikah tahun depan. Udah kebayang, semua bisa direncanain pelan-pelan, dokumen kelar, keluarga siap, resepsi Indonesia vibes, semua tertata. Tapi ya... hidup suka lemparin plot twist kayak sinetron prime time.

Tiba-tiba timeline berubah. Aku dan pasanganku (yes, we're from different countries—double combo culture clash) mutusin buat akad duluan di beberapa bulan ke depan. Resepsi? Masih on track tahun depan, tapi yang penting sah dulu. Karena hidup tuh kadang bukan soal siap atau enggak, tapi soal kapan harus ambil keputusan besar — dan ini salah satunya.

Beratnya Jadi Anak yang Beda Jalur

Dari awal aku udah tahu, jalan ini bakal nggak gampang. Nikah lintas negara bukan cuma soal cinta, tapi juga soal dokumen yang njelimet, biaya hidup di negara yang literally masuk daftar negara termahal, dan of course... keluarga.

Waktu aku cerita ke keluarga, awalnya respons mereka tuh kayak... "Wah, anak kita mau nikah, seneng dong!" Tapi langsung diiringi awan keraguan karena aku nggak ngikutin adat. Dan yang paling nusuk? Bukan cuma mereka nggak support secara emosional, tapi malah nambah beban pikiran.

Alih-alih nanya "kamu butuh bantuan apa?", yang keluar malah,
"Kita harus naik pesawat sendiri?"
"Siapa yang biayain kita ke sana?"
"Kita tinggal di mana nanti?"
Dan jujur... itu bikin dadaku sesek. Karena niatku tulus: ngenalin mereka ke orang yang aku pilih, bukan malah bikin aku ngerasa bersalah karena mau bahagia.


Untungnya, Aku Nggak Sendirian

Di titik itu, aku bersyukur banget punya pasangan yang bukan cuma sabar, tapi juga tanggap. Dia siap cover semua akomodasi keluarga aku tanpa banyak tanya. Padahal dia tahu, aku udah stres duluan dari sisi keluarga sendiri.

Tapi ya, drama nggak berhenti di situ. Masih banyak small fights yang entah muncul dari opini random orang yang didengerin keluargaku, atau sekadar asumsi sendiri. Jujur, kadang aku nanya dalam hati:
"Kenapa sih kalian lebih milih denger orang lain daripada denger anakmu sendiri?"


Sedikit Flashback: Anak "Mandiri" yang Dianggap Sombong

Okay, aku akuin, aku anak yang keras kepala. I do things my way. Aku tipe yang minta maaf duluan, bukan minta izin dulu. Karena aku capek, selalu harus jelasin kenapa aku milih jalan yang beda.

Sejak kecil, aku udah terbiasa sendiri. Juara 1 dari SD sampai SMA, ikut lomba sana-sini, dapat uang jajan tambahan dari kegiatan sekolah. Tapi semua itu kayak... nggak berarti apa-apa. Dibandingin terus sama saudara yang meski nilainya nggak segitu, tetep dianggap spesial.

Kuliah? Aku nggak keluar biaya, dapat beasiswa full. Lulus tercepat dan jadi lulusan terbaik. Tapi tetap aja... biasa aja di mata mereka. Setelah kuliah, aku kerja sendiri, pindah ke ibu kota, survive sendirian. Tapi di mata mereka, aku yang jauh dan berubah.

Padahal... aku cuma pengin hidup. Cuma pengin bahagia. Cuma pengin dipeluk, dibilang,
"Kamu hebat. Nggak apa-apa kok nikah beda negara. Yang penting kamu yakin dan bahagia."
Tapi itu nggak pernah keluar dari mulut mereka.


Ending yang Belum Ending

Cerita ini belum selesai. Aku masih berjuang, masih menyeimbangkan hati, logika, dan realita. Tapi satu hal yang pasti: aku nggak pernah berhenti sayang sama keluargaku, meski kadang mereka bikin aku mikir keras setiap malam.

Aku cuma pengin mereka lihat... aku udah cukup kuat berdiri, dan kali ini, aku pengin jalan bareng orang yang mau jalan sama aku — meski jalannya nggak sesuai tradisi.


"Untuk yang sedang berjuang mendapatkan restu — kamu nggak sendiri.
Dan kamu nggak egois karena memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri."

Comments

Popular posts from this blog

Series: Boss vs Leader || Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek

Episode 1: Si Senior Strategis yang Diam-diam Bikin Gue Melek Jujur ya, dari 4 tahun kerja, gue makin sadar kalau nggak semua mentor itu bentuknya kayak “motivator” yang teriak-teriak di depan atau selalu sibuk kasih wejangan. Ada juga tipe mentor yang ngajarin lo lewat cara mereka nge- play the game . Dan episode pertama ini, gue mau cerita tentang salah satu atasan paling senior yang pernah gue temuin. Beliau ini udah kerja puluhan tahun, literally mungkin 30 tahunan lebih. Dari vibe sehari-harinya, jelas banget dia bukan tipe yang doyan cari spotlight. Nggak ada tuh gaya “nyari muka ke bos lebih gede”. Justru kebalikannya: low-key, tenang, tapi super strategis. Cara ngomongnya singkat, to the point, dan jelas banget kalau dia udah kebal sama politik kantor. Dan anehnya ya, justru karena itulah semua orang respect. Dia disegani bukan cuma karena senioritas, tapi karena kontribusinya gede banget. Kalau ada dia di ruang meeting, semua orang otomatis ngedengerin. Aura “gue tau apa ya...

Series: Career Plot Twist

Perjalanan Karierku: Dari Arsitektur ke Dunia Kerja Kalau ditanya, “Kenapa sih dulu ambil arsitektur?” Jawabannya simpel: gue suka desain, suka bikin sesuatu yang nyata, bukan cuma teori di atas kertas. Gue kuliah arsitektur dari 2017 sampai 2021. Dan sekarang, di 2025, gue udah masuk tahun ke-4 berkarier setelah lulus. Waktu kuliah, gue bukan tipikal anak himpunan. Bukan karena anti-sosial, tapi menurut gue atmosfernya terlalu senioritas dan nggak nyambung sama tujuan pribadi gue. Gue lebih milih ikut workshop jurusan, atau ambil project-project kecil dari luar. Kadang dari rumah tinggal, kadang dari instansi—kebanyakan sih dari dosen yang percaya sama kemampuan gue. Dan hasilnya? Habis buat biaya maket skripsi, dong. Circle of life anak arsitektur banget kan: cari project, dapat duit, duitnya balik lagi ke maket. Repeat until lulus 🤣. Nah, setelah lulus, dimulailah perjalanan karier gue. Dari interior, loncat ke telekomunikasi, balik lagi ke dunia 3D, sampai sekarang siap buk...

Semua Orang Sibuk Menjadi Pusat

Kadang lucu ya, gimana sebuah kumpulan orang yang sebenarnya baik-baik aja, bisa bikin kita ngerasa kayak… “kok gue capek sendiri ya?” Padahal gak ada yang salah. Semuanya ramah, care, sering bantu, dan kalau dilihat dari luar, hubungan ini kelihatan healthy banget. Tapi makin sering lo duduk di antara mereka, makin lo sadar: semua perhatian kayak punya satu arah. Selalu ada satu orang yang entah kenapa jadi pusat orbit. Kalau dia ngomong, semua nyimak. Kalau dia datang, semua bersemangat. Kalau dia absen, semua bahas. Meanwhile kalau lo cerita sesuatu? Reaksinya: “oh ya?” — lalu ganti topik. Awalnya lo mikir, yaudah deh. Bukan masalah besar juga. Lo bukan tipe orang yang haus perhatian. Lo cukup senang jadi bagian dari lingkaran yang solid. Tapi makin hari, makin terasa bedanya. Kayak lo hadir, tapi gak benar-benar ada. Suatu hari, lo ngalamin momen yang cukup nyantol di kepala. Waktu itu rencananya bareng-bareng ke luar kota — semacam trip kecil buat refreshing baren...