Disclaimer: Cerita ini masih berjalan. Masih banyak plot twist, jadi... stay tuned.
Awalnya aku pikir, aku bakal nikah tahun depan. Udah kebayang, semua bisa direncanain pelan-pelan, dokumen kelar, keluarga siap, resepsi Indonesia vibes, semua tertata. Tapi ya... hidup suka lemparin plot twist kayak sinetron prime time.
Tiba-tiba timeline berubah. Aku dan pasanganku (yes, we're from different countries—double combo culture clash) mutusin buat akad duluan di beberapa bulan ke depan. Resepsi? Masih on track tahun depan, tapi yang penting sah dulu. Karena hidup tuh kadang bukan soal siap atau enggak, tapi soal kapan harus ambil keputusan besar — dan ini salah satunya.
Beratnya Jadi Anak yang Beda Jalur
Dari awal aku udah tahu, jalan ini bakal nggak gampang. Nikah lintas negara bukan cuma soal cinta, tapi juga soal dokumen yang njelimet, biaya hidup di negara yang literally masuk daftar negara termahal, dan of course... keluarga.
Waktu aku cerita ke keluarga, awalnya respons mereka tuh kayak... "Wah, anak kita mau nikah, seneng dong!" Tapi langsung diiringi awan keraguan karena aku nggak ngikutin adat. Dan yang paling nusuk? Bukan cuma mereka nggak support secara emosional, tapi malah nambah beban pikiran.
Alih-alih nanya "kamu butuh bantuan apa?", yang keluar malah,
"Kita harus naik pesawat sendiri?"
"Siapa yang biayain kita ke sana?"
"Kita tinggal di mana nanti?"
Dan jujur... itu bikin dadaku sesek. Karena niatku tulus: ngenalin mereka ke orang yang aku pilih, bukan malah bikin aku ngerasa bersalah karena mau bahagia.
Untungnya, Aku Nggak Sendirian
Di titik itu, aku bersyukur banget punya pasangan yang bukan cuma sabar, tapi juga tanggap. Dia siap cover semua akomodasi keluarga aku tanpa banyak tanya. Padahal dia tahu, aku udah stres duluan dari sisi keluarga sendiri.
Tapi ya, drama nggak berhenti di situ. Masih banyak small fights yang entah muncul dari opini random orang yang didengerin keluargaku, atau sekadar asumsi sendiri. Jujur, kadang aku nanya dalam hati:
"Kenapa sih kalian lebih milih denger orang lain daripada denger anakmu sendiri?"
Sedikit Flashback: Anak "Mandiri" yang Dianggap Sombong
Okay, aku akuin, aku anak yang keras kepala. I do things my way. Aku tipe yang minta maaf duluan, bukan minta izin dulu. Karena aku capek, selalu harus jelasin kenapa aku milih jalan yang beda.
Sejak kecil, aku udah terbiasa sendiri. Juara 1 dari SD sampai SMA, ikut lomba sana-sini, dapat uang jajan tambahan dari kegiatan sekolah. Tapi semua itu kayak... nggak berarti apa-apa. Dibandingin terus sama saudara yang meski nilainya nggak segitu, tetep dianggap spesial.
Kuliah? Aku nggak keluar biaya, dapat beasiswa full. Lulus tercepat dan jadi lulusan terbaik. Tapi tetap aja... biasa aja di mata mereka. Setelah kuliah, aku kerja sendiri, pindah ke ibu kota, survive sendirian. Tapi di mata mereka, aku yang jauh dan berubah.
Padahal... aku cuma pengin hidup. Cuma pengin bahagia. Cuma pengin dipeluk, dibilang,
"Kamu hebat. Nggak apa-apa kok nikah beda negara. Yang penting kamu yakin dan bahagia."
Tapi itu nggak pernah keluar dari mulut mereka.
Ending yang Belum Ending
Cerita ini belum selesai. Aku masih berjuang, masih menyeimbangkan hati, logika, dan realita. Tapi satu hal yang pasti: aku nggak pernah berhenti sayang sama keluargaku, meski kadang mereka bikin aku mikir keras setiap malam.
Aku cuma pengin mereka lihat... aku udah cukup kuat berdiri, dan kali ini, aku pengin jalan bareng orang yang mau jalan sama aku — meski jalannya nggak sesuai tradisi.
"Untuk yang sedang berjuang mendapatkan restu — kamu nggak sendiri.
Dan kamu nggak egois karena memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri."

Comments
Post a Comment
Drop your thoughts ✨ no spam, just good vibes. I read every comment!