Bayangin kerja di perusahaan teknologi... tapi kolega sebelahmu takut sama AI. Katanya sih 'AI itu ngerusak kreativitas'. Lucu, karena yang ngomong juga jarang kasih ide. ๐
Aku kerja di perusahaan berbasis teknologi—tempat di mana inovasi bukan cuma jargon, tapi core dari proses kerja. Divisiku: Marketing Komunikasi. Tempat di mana ide segar dan kreativitas itu bukan cuma nilai tambah, tapi keharusan.
Nah, masuklah rekan baru. Sebut aja "K". Latar belakangnya cukup oke, tapi dari awal udah kelihatan kalau dia skeptis banget sama AI.
Aku lebih percaya proses manual.
Ironi? Jelas. Tapi aku diem dulu. Aku pengamat dulu.
Setiap kali ada ide pakai AI buat bantu brainstorming, desain visual, bahkan sekadar enhance image, dia selalu nolak.
Dia pernah pakai hasil generate AI dari Freepik... itu pun karena diajarin sama SPV kita. Dan bukan karena penasaran atau inisiatif, tapi karena "disuruh coba". Tapi responsnya selalu mental tembok. Dia keukeuh mau manual, padahal kenyataannya... hasil kerjanya justru:
-
Nggak standout secara kreatif.
-
Lama revisinya.
-
Dan sering harus direvisi ulang karena kurang sesuai ekspektasi tim.
Sampai di titik aku bingung:
Kamu anti-AI karena prinsip, atau cuma takut belajar hal baru?
— AI itu bukan buat ngeganti manusia, tapi buat bantu kerja manusia jadi lebih efisien.
Kreativitas tetap milik manusia. Tapi kalau progress mindset-nya stuck di masa lalu, ya sayang banget kerja di industri masa depan.
Punya rekan kerja yang anti-AI tapi suka ngeluh kerjaan berat?
Drop ceritamu di kolom komentar. Kita bikin komunitas “Korban Anti-AI yang Kelewat Idealis tapi Nggak Produktif”. ๐ฎ๐จ

Comments
Post a Comment
Drop your thoughts ✨ no spam, just good vibes. I read every comment!